Showing posts with label Pencari Asal Usul dan Kaitan kepada Persejarahan. Show all posts
Showing posts with label Pencari Asal Usul dan Kaitan kepada Persejarahan. Show all posts

Saturday, 29 December 2012

Soalan untuk Tunku Dato Iskandar Dzulkarnain dari Saharudin Idris

Shah Azizu has left a new comment on your post "tunku dato iskandar dzulkarnain": 

assalamualaikum...tuanku..patik daripada generasi ke6 tok laut daeng lembok yang berasal dari pahang..patik ingin bertanya..kerana patik mempunyai salah silah 3 beradik daeng lembok ank kpada daeng merah..yg diamanatkn oleh datuk patik idris ahmad ank kpda tok laut..sudah berabat lamanya patik mencari kaum kerabat daeng lembok kemana menhilang..harap tuanku dapt membntu patik..call 0179877240/0179305300 saharudin idris.. 

tuanku patik...ingin bertanya boleh patik tau dimana..keturunan patik iaitu daeng lembok..kerana patik masih lagi menyimpan salasilah tersebut..daeng lembok,daeng mertam,daeng koroh...patik dari generasi ke 6 anak cucu ahmad..anak kpda daeng lembok...call 0179877240/0179305300 

Tuesday, 27 March 2012

Peranan dan Fungsi Pemerintahan Terdepan yakni Pemerintahan Nagari di Sumatera Barat di dalam implementasi dan pelestarian adat

Peran dan Fungsi Pemerintahan Terdepan yakni Pemerintahan Nagari di Sumatera barat di dalam implementasi dan pelestarian adat basandi syarak (syariat Islam) - syariat bersendikan kitabullah (dan Sunnah Rasulullah SAW)

Mari kita syukuri nikmat Allah terhadap daerah kita Sumatera Barat yang hidup dalam satu tatanan langgo langgi (struktur) Masyarakat Hukum Adat (MHA) di Minangkabau. Karena dengan keterpaduan hati mensyukurinya di ikuti langkah berkesinambungan akan banyak memberi kontribusi membangun daerah kita khususnya Sumatera Barat dengan kekuatan adat budaya masyarakatnya dalam filosofi Adat Bersendi Syarak (Syariat Islam) dan Syarak Bersendi Kitabullah.

Filosofi kehidupan MHA Minangkabau dengan Langgo Langgi perkerabatan nagari, kampuang, suku, kaum, jurai yang bermula dari rumah tangga. Pada semua tingkatan perkerabatan ada pengawalan pada posisi dan peran yang jelas karajo ba umpuak surang surang, urang ba jabatan masieng. Artinya ada pembagian pekerjaan. Filosofi ABSSBK dalam perkerabatan MHA Minangkabau menyatu dengan keyakinan dan syariat Agama Islam bersendikan Kitabullah. Darisini pembentukan watak generasi (pendidikan berkarakter) itu sebenarnya di awali.

Abad ini sedang berlangsung lonjakan perubahan menampilkan hubungan komunikasi informasi dan transportasi cepat yang berpengaruh kepada nilai-nilai tamadun yang sudah ada. Kekuatan Budaya MHA Minangkabau sebenarnya terikat kuat pada penghayatan Islam. Dimasa sangat panjang terbukti menjadi salah satu puncak kebudayaan dunia. Perubahan kini, desa‑desa yang terisolir telah terbuka jadi sentra perkebunan besar (seperti di Pasaman, Sitiung dan Solok Selatan).

Gaya hidup panggang lutok (konsumeristis) telah menghipnotis warga hingga kedesa terujung. Malah berpengaruh besar menghilangkan kearifan budaya, tidak lagimengukur bayang bayang sepanjang badan. Terjadi gadang pasak pado tiang.Pergaulan muda‑mudi tidak mengenal sumbang-salah. Perkerabatan mulai menipis.

Peran ninik mamak melemah sebatas seremoni. Peran imam khatib sekedar pengisi ceramah. Surau dan Masjid lengang mati suri. Madrasah di nagari kurang diminati. Kedudukan orang tua hanya memenuhi keperluan materi anakcucunya. Guru‑guru disekolah semata mengajar. Peran sentral pendidikan jadi kabur.

Kearifan MHA Minangkabau merancangbangun masyarakat terabaikan. Gaya hedonismaterialis dan individualis menghapus nilai nilai utama berat sepikul ringan sejinjingyang dulu jadi penggerak utama kegotong royongan membangun kampong halaman.

Mengatasi semua itu, amat perlu membangun peribadi unggul dengan iman dan taqwa, berlimu pengetahuan, menguasai teknologi, berjiwa wiraswasta, bermoral akhlak, beradat dan beragama. Disini Peran dan Fungsi Pemerintahan Terdepan yakni "pemerintahan nagari" dalam Implementasi dan Pelestarian (nilai dan gerak aplikatif) ABSSBK mestinya berada didepan dan tidak boleh abai.

Perpaduan Adat dan Syarak berpedoman Firman Allah ; “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berkabilah-kabilah (bangsa-bangsa) dan berpuak-puak (suku-suku) supaya kamu saling kenal mengenal …”, (QS.49, al Hujurat : 13).

Perbedaan suku dan jurai adalah kekuatan besar adat di Minangkabau “Pawang biduak nak rang Tiku, Pandai mandayuang manalungkuik, Basilang kayu dalam tungku, Di sinan api mangko hiduik”.

Masyarakat Minangkabau dengan filosofi ABSSBK memiliki ciri khas Beradat dan Beradab yang Beragama Islam. ABS-SBK menjadi konsep dasar Adat Nan Sabana Adat yang diungkap lewat Bahasa sebagai Kato Pusako, yang memengaruhi sikap umum dan tata-cara pergaulan masyarakat. Kegiatan hidup bermasyarakat dalam kawasan ini selalu dipengaruhi oleh berbagai tatanan (system) dan berbagai tataran (structural levels).

Paling mendasar tatanan nilai dan norma dasar sosial budaya yang membentuk perspektif atau Pandangan Dunia dan Panduan Hidup masyarakatnya. Diantaranya ;

  1. memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat nagari, berupa sikap umum dan perilaku serta tata-cara pergaulan dari masyarakat itu.
  2. menjadi landasan pembentukan pranata sosial keorganisasian dan pendidikan yang melahirkan berbagai gerakan, produk budaya yang dikembangkan secara formal ataupun informal.
  3. menjadi petunjuk perilaku bagi setiap dan masing-masing anggota masyarakatdi dalam kehidupan sendiri-sendiri maupun bersama-sama.
  4. memberi ruang dan batasan-batasan bagi pengembangan kreatif potensi nagari dan penduduknya dalam menghasilkan buah karya sosial budaya dan peningkatan ekonomi anak nagari, serta karya-karya dan keragaman pemikiran intelektual dan tampak sebagai folklore dan akan menjadi mesin pengembangan dan pertumbuhan Sumatera Barat di segala bidang.

Sebagai masyarakat beradat dengan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedah-kaedah adat itu memberikan pelajaran strategis dalam penerapannya.

  1. Mengutamakan prinsip hidup “keseimbangan” karena Islam menghendaki keseimbangan antara rohani dan jasmani. Keseimbangan pembinaan “Anak dipangku kamanakan di bimbiang, rang kampuang dipatenggangkan” seiring bimbingan Syariat Islam ; "Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya" (Hadist).
  2. Kesadaran akan “luasnya bumi Allah” sehingga mudah digunakan. “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di didalamnya." (QS.4, An-Nisak : 97), melahirkan budaya Marantau diiringi kemampuan meng-introdusirtenaga perantau merasakan denyut nadi kehidupan masyarakat di nagarinya melalui kebersamaan dan kecintaan kampung halaman sehingga berurat dihati umat dalam membangun kampung dan wilayahnya di mana bumi dipijak disana langit dijunjung.

Sebagai masyarakat beradat dan beragama ditanamkan sikap hati-hati “Ingek sa-balun kanai, Kulimek sa-balun abih, Ingek-ingek nan ka-pai, Agak-agak nan ka-tingga”.Memiliki jati diri tidak mau menjadi beban orang lain. Membiarkan diri hidup miskin adalah salah. "Kefakiran membawa kepada kekufuran " (Hadist).

Monday, 19 December 2011

History of Negeri Sembilan



Negeri Sembilan, one of the 13 states that constitutes Malaysia, lies on the western coast of Peninsular Malaysia, just south of Kuala Lumpur and borders Selangor on the north, Pahang in the east, and Malacca and Johor to the south.

The name is believed to derive from the nine districts or negara (now known as luak) settled by the Minangkabau, a people originally from West Sumatra (in present-day Indonesia). Minangkabau features are still visible today in traditional architecture and the dialect of Malay spoken.

Unlike the hereditary monarchs of the other royal Malay states, the ruler of Negeri Sembilan is known as Yang di-Pertuan Besar instead ofSultan. The election of the Ruler is also unique. He is selected by the council of Undangs who lead the four biggest districts of Sungai Ujong, Jelebu, Johol, and Rembau, making it one of the more democratic monarchies.

The capital of Negeri Sembilan is Seremban. The royal capital is Seri Menanti in the district of Kuala Pilah. Other important towns are Port Dickson and Nilai.

The Arabic honorific title of the state is Darul Khusus ("the Special Abode").

The ethnic composition in 2005 was:Malay (497,896 or 54.96%), Chinese (220,141 or 24.3%), Indian (137,588 or 15.18%), Other (50,267 or 5.54%).


History

The Minangkabaus from Sumatra settled in Negeri Sembilan in the 15th century under the protection of the Malacca Sultanate, and later under the protection of its successor, the Sultanate of Johor. As Johor weakened in the 18th century, attacks by the Bugis forced the Minangkabaus to seek protection from their homeland. The Minangkabau ruler, Sultan Abdul Jalil, obliged by sending his near relative,Raja Melewar. When he arrived, he found that another royal, Raja Khatib had already established himself as ruler. He declared war against Raja Khatib and became the ruler of Negeri Sembilan. The Sultan of Johor confirmed his position by granting the title Yang di-Pertuan Besar Negeri Sembilan (He Who is Highest Lord of the Nine States) in 1773. After Raja Melewar's death, a series of disputes arose over the succession. For a considerable period, the local nobles applied to the Minangkabau ruler in Sumatra for a ruler. However, competing interests supported different candidates, often resulting in instability and civil war.

In 1873, the British intervened militarily in a civil war in Sungai Ujong to preserve British economic interests, and placed the country under the control of a British Resident. Jelebu followed in 1886, and the remaining states in 1895. In 1897, when the Federated Malay States(FMS) was established, Sungai Ujong and Jelebu were reunited to the confederation of small states and the whole, under the old name of the Negeri Sembilan, was placed under a single Resident and became a member of the FMS.

The number of states within Negeri Sembilan has fluctuated over the years, the federation now consists of six states and a number of sub-states under their suzerainty. The former state of Naning was annexed to Malacca, Kelang to Selangor, and Segamat to Johor.

Negeri Sembilan endured Japanese occupation in World War II between 1941 and 1945, and joined the Federation of Malaya in 1948, and became a state of Malaysia in 1963.

[edit]Government and politics

[edit]Constitution

The Constitution of Negeri Sembilan came into force on 26 March 1959. It is divided into two sections. The constitution establishes that the state's form of government is constitutional monarchy.

[edit]The Ruler

Istana Seri Menanti

The official constitutional title of the Ruler of the state is Duli Yang Maha Mulia Yang di-Pertua Besar Negeri Sembilan and he holds office for life. The state's constitution proclaims the Yang di-Pertuan Besar is vested with the Executive Power of the state, is the Head of the Religion of Islam in the state and is the fountain of all honour and dignity for the state. The current Yang di-Pertuan Besar is His Royal Highness Tuanku Muhriz ibni Almarhum Tuanku Munawir. His Royal Highness succeeds Almarhum Tuanku Jaafar Ibni Almarhum Tuanku Abdul Rahman who died on 27 December 2008.

Unlike Malaysia's eight other Royal Malay states, the Ruler of Negeri Sembilan is elected to his office by the territorial chiefs of the state. These chiefs are titled Undang. Only four of the Undangs have the right to vote in the election for the Ruler of the State. They are:

  • The Undang of Sungai Ujong
  • The Undang of Jelebu
  • The Undang of Johol
  • The Undang of Rembau

The Undang themselves cannot stand for election and their choice of ruler is limited to a male Muslim who is Malay and also a "lawfully begotten descendant of Raja Radin ibni Raja Lenggang".

[edit]State Executive Council

The State Executive Council is established by the 1959 constitution. It consists of the Menteri Besar, who is its Chairman, and ten other members. The Menteri Besar and the other members of the council are appointed by the Yang Di-Pertuan Besar from the members of the State Assembly. The current Menteri Besar or Chief Minister of the state is Dato' Seri Utama Muhammad Hassan.

[edit]Economy

The state's manufacturing sector contributing almost half of the state’s gross domestic product (GDP), followed by services and tourism (40.3%), agriculture (6%), construction (2.2%) and mining (0.3%). Manufacturing activity includes electrical and electronics, textiles, furniture, chemicals, machinery, metal works and rubber products. The main industrial areas areSenawang, Sungai Gadut, Tuanku Jaafar Industrial Park, Nilai and Tanah Merah in Port Dickson. Coca-Cola, which is in the midst of setting up its billion ringgit bottling plant in Bandar Enstek.

Negeri Sembilan is mainly an agricultural state. However, the establishment of several industrial estates enhanced the manufacturing sector as a major contributor towards the state economy.

Agricultural activity includes rubber and oil palm plantations, livestock, fruit orchards and vegetable farming. About 3,099 square kilometers are used for rubber and oil palm plantations.

[edit]Administration

[edit]Districts

The state comprises 7 districts :

It originally consisted of 9 districts : - Jelai (Inas) - Jelebu - Johol - Kelang (now a district in Selangor) - Naning (now a district in Malacca) - Rembau - Segamat (now in Johor) / Pasir Besar (now in Tampin) - Sungai Ujong - Alu Panah (now divided between Jelebu and Pahang State)